Kamis, 27 Januari 2011

EFEK SEALER SALURAN AKAR BERBASIS EUGENOL TERHADAP RETENSI POST METAL PRE-PABRIKASI YANG DIREKATKAN DENGAN SEMEN RESIN

ABSTRAK
penelitian ini mengamati efek dua perbedaan sealer saluran akar berbasis eugenol terhadap retensi post metal pre-pabrikasi yang direkatka dengan semen resin adhesif.
Pada penelitian ini, 30 post pre-pabrikasi dibagi secara acak menjadi 3 kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 post yang direkatkan dengan semen resin adhesif ke gigi berakar tunggal yang diekstraksi. Dua dari kelompok tersebut diobturasi dengan Gutta Percha dan satu dari kedua kelompok tersebut menggunakan sealer saluran akar berbasis eugenol (Endofil atau Tubli-Seal). Kelompok ketiga tidak diobturasi dan dijadikan sebagai kontrol. Kekuatan yang diperlukan untuk melepaskan post dari ruang post yang dipreparasi dicatat menggunakan universal testing machine. Data dianalisa secara statistik menggunakan uji ANOVA satu arah dan Tukey's multiple range test digunakan untuk menentukan perbedaan rata-rata.
Kelompok Endofil dan Tubli-Seal memperlihatkan adanya pengurangan retensi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak diobturasi(kontrol)(P<0.005)
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sealer berbasis eugenol mengurangi retensi post pre-pabrikasi yang direkatkan dengan semen resin adhesif.
Kata kunci: sealer berbasis eugenol, post metal, semen resin adhesif.

PENDAHULUAN  
Selama dua dekade terakhir, beberapa penelitian laboratoris telah mengamati hal-hal yang mempengaruhi retensi post. Variabel-variabel yang diketahui mempengaruhi retensi post, diantaranya desain post, panjang post, diameter post, tipe semen, dan tipe sealer yang digunakan untuk obturasi saluran akar.
Ada hubungan langsung  antara panjang post dan retensi. Post  harus cukup panjang untuk meminimalisir stress internal pada akar. Beberapa bentuk post yang ideal diantaranya memiliki panjang yang sama dengan mahkota klinis, setengah dari panjang akar, lebih panjang dari mahkota akhir, pertengahan antara apeks dan tinggi puncak alveolar, dan menyisakan 3-5 mm bahan pengisi saluran akar (Gambar 1). Peneliti dan klinisi berpendapat bahwa panjang post tidak boleh berkontak dengan apikal seal. Menurut Standlee dkk. retensi post meningkat pada penggunaan post yang panjang daripada post yang pendek.


Gambar 1. Panjang post

Berkaitan dengan retensi, bertambahnya diameter post atau bahkan tidak meningatkan retensi post. Diameter post tidak harus ditingkatkan untuk mendapatkan retensi tetapi harus diperhatikan terkait dengan sifat fisik post dan morfologi saluran akar untuk menghidari pembuangan struktur gigi yang berlebihan. Meningkatnya diameter dapat melemahkan struktur akar yang tersisa dan memungkinkan terjadinya fratur.
Bentuk post  merupakan faktor yang penting dalam menentukan retensi dan distribusi stress, dan penentuan tipe post terkait dengan situasi klinis (Gambar 2). Beberapa bentuk post yang biasa digunakan diantaranya: post berbentuk taper, parallel, dan silindris. Post yang berbentuk taper biasanya kurang baik. Semakin besar taper maka retensi semakin rendah. Post yang berbentuk taper memudahkan semen mengalir dan mudah terlepas. selama pengisian, post berbentuk taper menunjukkan distribusi stress yang tidak baik dibandingkan post berbentuk parallel,dan dapat menyebabkan akar patah karena desakan tekanan. Post yang berbentuk parallel meningkatkan retensi dibandingkan post berbentuk taper karena pola distribusi stress yang lebih baik terhadap beban. Pada post yang berbentuk silindris, untuk mengurangi tekanan hidrostatik selama sementasi, biasanya terdapat lubang disepanjang axis-nya. Resistensi post silindris terhadap kekuatan torsional/rotasional rendah, oleh karena itu perlu dibuatkan anti-rotasional pada unit post-core akhir untuk meningkatkan resistensi terhadap kekuatan ini.3


Gambar 2. Beberapa contoh post-core9

Tipe bahan luting yang digunakan untuk sementasi post telah diteliti secara luas. Tidak ada satupun bahan luting yang secara konsisten lebih bagus dibandingkan yang lainnya.1 Hal ini berbeda dengan pendapat Soares JA dkk. yang menyatakan bahwa tipe semen luting berpengaruh langsung terhadap waktu pelepasan post intra-radikular menggunakan alat ultrasound. Menurut Soares JA dkk.,  post yang direkatkan dengan semen resin lebih sulit dilepaskan oleh alat ultrasound (rata-rata 5 menit)  daripada post yang direkatkan oleh zinc phosphate dan glass ionomer cement.5
Selama proses luting post, bahan pengisi saluran akar atau bahan sealer lainnya yang digunakan untuk obturasi mungkin bercampur dengan semen yang digunakan untuk merekatkan post ke dalam saluran akar yang dipreparasi sehingga mempengaruhi hasilnya.1 Beberapa sealer yang digunakan untuk obturasi saluran akar mengandung eugenol yang menghambat polimerisasi resin pada beberapa penelitian.1,4,6 Berdasarkan komposisi kimianya, ada 5 jenis sealer yang biasa digunakan untuk mengisi saluran akar, yaitu semen berbasis zinc oxide eugenol, semen yang mengandung kalsium hidroksida, semen berbasis resin, semen berbasis Glass Ionomer, dan sealer eksperimental.8
Ada perbedaan mengenai efek sealer saluran akar yang berbasis eugenol terhadap retensi post yang direkatkan dengan semen resin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sealer berbasis eugenol secara signifikan memiliki efek negatif terhadap retensi post.1,2 Bergeron dkk. (2001) melaporkan bahwa post yang disemenkan ke gigi yang diobturasi dengan Gutta-Percha dan sealer tanpa eugenol (AH26) memperlihatkan resistensi yang lebih besar terhadap pelepasan  dibandingkan dengan gigi yang diobturasi dengan Gutta-Percha dan sealer yang berbasis eugenol (Roth’s 801 Elite).1
Beberapa peneliti melaporkan bahwa tipe sealer saluran akar tidak berpengaruh negatif terhadap retensi post. Hagge dkk. (2002) mengamati efek lima semen luting terhadap retensi post pre-pabrikasi ke dalam saluran akar yang diobturasi dengan Gutta-Percha dan sealer zinc oxide/eugenol. Mereka melaporkan bahwa post yang direkatkan dengan semen Panavia 21 ke dalam saluran akar yang tidak diobturasi memiliki retensi yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan post dengan bahan luting lainnya pada semua kelompok obturasi. Diantara kelompok yang diobturasi, post yang direkatkan dengan semen Panavia 21 menunjukkan retensi yang lebih tinggi daripada kelompok yang direkatkan dengan zinc phosphate cement. 1
Bahan luting resin yang terbaru dan tipe sealer saluran akar berbasis eugenol yang berbeda terus menerus diperkenalkan di pasaran. Efek bahan ini terhadap retensi post belum diamati sepenuhnya. Tujuan penelitian ini adalah mengamati retensi stainless steel parallel post prepabrikasi yang direkatkan dengan semen resin adhesif ke gigi yang telah diekstraksi yang diobturasi dengan Gutta-Percha menggunakan sealer saluran akar berbasis eugenol. 1

BAHAN DAN METODE
Tiga puluh gigi manusia berakar tunggal yang telah diekstraksi secara utuh diseleksi. Gigi dibersihkan dari kalkulus dan direndam didalam air pada temperatur ruangan. Bagian koronal setiap gigi dibelah menggunakan carbide bur tegak lurus dengan axis panjang gigi, kira-kira 2 mm diatas fasial batas sementum enamel (Gambar 3).1


Gambar 3. Potongan gigi yang dibelah tegak lurus dengan axis panjang gigi.10


Saluran akar gigi diinstrumentasikan menjadi ukuran 50 dengan K-file (L.D Caulk Divison, Dentsply International, Inc., Milford, DE, USA). Peeso reamer (Pulpdent Corporation, Watertown, MA, USA) digunakan dari nomor  1-5, dengan kecepatan rendah, dengan kedalaman 10 mm (Gambar 4a). Ukuran standart ruangan post dipreparasi menggunakan parallel-side parapost twist drill nomor 6 berkecepatan rendah (Post Black P-42, Whaledent International, New York, NY, USA). Ruang untuk post dibuat dengan diameter 1.5 mm dan kedalaman 10 mm (Gambar 4b). Irigasi air  digunakan selama instrumentasi. Radiograf semua spesimen akar gigi diambil dari arah mesiodistal dan bukolingual untuk memastikan bahwa sekurang-kurangnya ketebalan dentin akar tersisa 1 mm setelah preparasi.1


                                                                
Gambar. 4 a. Pengunaan Peeso Reamer untuk mengontrol kedalaman post sedalam 10 mm, b. Preparasi ruang post dengan drill.10


Setelah preparasi, gigi dibagi secara acak menjadi 3 kelompok (Tabel 1). Kelompok 1 tidak diobturasi dan dianggap sebagai kelompok kontrol. Kelompok 2 dan 3 diobturasi dengan Gutta-Percha yang dikondensasi lateral (Kerr/Sybron Corp., Romulus, MI) dan salah satu kelompok diisi dengan sealer saluran akar zinc oxide eugenol baik Endofil (Promedica, Neumunster, Germany) atau Tubli-Seal (Kerr Italia S.P.A, Salerno, Italy). Plugger endodontik yang dipanaskan (No. 911, Moyco Union Broach, Inc., York, PA, USA) digunakan untuk kondensasi koronal Gutta-Percha secara vertikal kemudian ruang bagian koronal dipreparasi sedalam 3 mm untuk restorasi sementara. Semua gigi yang diobturasi ditumpat dengan cavit (ESPE, Norristown, PA, USA) dan disimpan dalam kelembaban yang relatif 100% pada temperatur ruangan selama 7 hari. Untuk kelompok 2 dan 3, Gutta-Percha dibuang dari saluran akar untuk mendapatkan kedalaman 10 mm menggunakan plugger yang dipanaskan.  Semua ruang yang dipreparasi untuk post diirigasi dengan saline dan diukur untuk mendapatkan kedalaman yang sama yaitu 10 mm. Post pre-pabrikasi parallel-side #6 yang berlubang (Post EP 44-6-12, Whaledent, New York, NY, USA) digunakan untuk semua kasus, dan semuanya didudukkan secara pasif ke masing-masing saluran akar sebelum luting. Selama terapi saluran akar dan preparasi ruang post, gigi ditahan didalam spons tipis yang direndam di dalam larutan saline untuk mempertahankan kelembaban.1
Spesimen direkatkan dengan resin self curing (Ortho Resin, Dentsply DeTrey, Konstanz, Germany), di dalam pipa PVC yang pendek , menggunakan dental surveyor (J.M. Ney Co., Bloomfield, CT, USA) untuk menyesuaikan ruangan post terhadap  axis vertikal (Gambar 5). Setelah saluran akar diirigasi dengan saline dan dikeringkan dengan paper point pengisap, post direkatkan dengan semen resin adhesif (3M relyx arc, 3M, St. Paul, MN, USA). Semen dicampur sesuai dengan petunjuk pabrik. Seluruh Post dilapisi dengan semen dan dimasukkan ke saluran akar yang dipreparasi dengan tekanan jari dan semen yang berlebih dibuang. Post dibiarkan secara pasif di saluran akar sewaktu semen setting. Gigi disimpan dalam kelembaban yang relatif 100%  pada temperatur ruangan selama 24 jam sebelum diuji.1
Setiap spesimen gigi dikunci secara vertikal dalam universal testing machine  (Instron,Model 8500 Plus Dynamic Testing System, Instron Corp., England) seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 6. Beban yang terpisah diaplikasikan pada kecepatan 5 mm/menit. Hasilnya dicatat dalam Kilogram kemudian diubah ke dalam Newton. Setiap spesimen yang diuji untuk kegagalan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk melepaskan post dicatat. 1

Gambar 5. Gigi ditanam didalam pipa menggunakan resin self curing7



Gambar 6. Spesimen ditempelkan dalam universal testing machine1

Analisa statistik data dihitung menggunakan analisa varians satu arah (ANOVA) dan diaplikasikan untuk menentukan kekuatan retentif rata-rata ketiga kelompok. Tukey’s multiple range dihitung untuk menentukan kelompok mana yang berbeda secara signifikan. Semua analisa statistik dihitung pada level signifikan 0.05 menggunakan program SPSS versi 10.

HASIL
Tabel 1. Rata-rata dan Standart Deviasi (SD) Kekuatan (N) yang Diperlukan untuk Melepaskan Post (n=10)1



Nilai rata-rata kekuatan retentif post yang paling tinggi tercatat pada kelompok yang tidak diobturasi (kontrol) (rata-rata=342 N), retensi yang paling rendah tercatat pada post yang direkatkan dengan semen resin ke dalam saluran akar yang diobturasi dengan sealer  Gutta-Percha dan Endofil (rata-rata = 53 N).
Uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan signifikan rata-rata retensi post antara tipe sealer yang berbeda (P<0.05). Uji Tukey menunjukkan bahwa kelompok Endofil memiliki perbedaan yang signifikan dibanding kelompok Tubli-Seal dan kelompok yang tidak diobturasi (kontrol) (P=0.001 dan P=0.0001). Kelompok Tubli-Seal memiliki perbedaan yang signifikan dibanding kelompok yang tidak diobturasi (kontrol) (p=0.0001). Kelompok yang tidak diobturasi (kontrol) memiliki perbedaan yang signifikan dibanding semua kelompok yang diobturasi lainnya.

DISKUSI
Hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa tipe sealer saluran akar mempengaruhi retensi post. Post pre-pabrikasi yang direkatkan dengan semen resin (3M Relyx Arc) pada gigi yang diobturasi dengan Gutta-Percha menggunakan sealer berbasis eugenol (Endofil dan Tubli-Seal) menunjukkan bahwa resistensi berkurang secara signifikan terhadap pelepasan axial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sisa eugenol memberikan pengaruh yang merugikan bagi retensi post yang direkatkan dengan semen resin. Hal ini mungkin disebabkan oleh tercampurnya bahan tersebut sewaktu setting luting semen resin. Tidak dianjurkan menggunakan semen resin  untuk merekatkan post prepabrikasi ke dalam saluran akar yang diobturasi dengan Gutta-Percha dan sealer berbasis eugenol. Saat sealer berbasis eugenol digunakan, eugenol berpenetrasi ke dalam dinding dentin. Sealer saluran akar mempunyai jarak setting time dari beberapa hari  hingga beberapa minggu. Setting time sealer yang lambat memudahkan eugenol berdifusi melalui tubulus dentin dan struktur sekitar gigi, yang dapat memperlambat setting time semen resin yang digunakan untuk merekatkan post.1,2
Hasil penelitian ini sama dengan beberapa penelitian lainnya yang melaporkan bahwa sealer berbasis eugenol memberikan efek yang negatif terhadap retensi post yang direkatkan dengan semen resin. Post yang direkatkan dengan semen resin ke dalam saluran akar yang diobturasi dengan sealer Endofil (berbasis eugenol) menunjukkan adanya pengurangan retensi dibandingkan dengan sealer Tubli-Seal (tidak berbasis eugenol). Ini dikaitkan dengan perbedaan prosedur pembuatan dan variasi persentasi unsur-unsur (kandungan) masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak diobturasi (kontrol) yang direkatkan dengan semen resin memiliki nilai retentif post yang lebih tinggi secara signifikan daripada kelompok yang berbasis eugenol. Temuan pada penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian lain yang melaporkan bahwa tipe sealer saluran akar tidak mempengaruhi retensi post yang direkatkan dengan semen resin. Penggunaan semen resin yang berbeda dan sealer berbasis eugenol yang berbeda dapat memberikan hasil yang berbeda.1
Ketika zinc phosphate digunakan sebagai bahan luting, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik (p>0.01) antara kelompok yang diisi dengan sealer yang berbasis eugenol dan tanpa eugenol (364.5 N dan 342.4 N berturut-turut). Sehingga sealer yang mengandung eugenol (endofil) tidak mengganggu sifat zinc phosphate cement yang menghasilkan kekuatan ikatan yang lebih tinggi.2
Pada penelitian ini, untuk mengamati efek sealer, preparasi ruang post dilakukan sebelum obturasi. Gutta-Percha dibuang menggunakan instrumen yang dipanaskan. Dengan cara ini, preparasi ruang post yang berlebihan dapat dihindari yang memungkinkan terbuangnya dentin yang terkontaminasi sealer dari dinding saluran akar namun dapat menimbulkan efek yang tidak terkontrol bagi retensi post.1
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa retensi post berkurang secara signifikan karena kedudukan post yang longgar dan bertambahnya ketebalan lapisan semen. Pada penelitian ini, penggunaan post yang berdiameter besar (diameter 1.5 mm) bertujuan untuk mengganti variabel yang meruncing pada saluran akar dan memastikan posisi yang dalam pada permukaan post-dentin. Ruang post berbentuk silinder disepanjang post . Adaptasi yang rapat antara post dengan dinding saluran akar mengurangi ketebalan semen  sehingga dapat meningkatkan retensi post.1




KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan secara in vitro, dapat disimpulkan bahwa: sealer berbasis eugenol secara signifikan mempunyai efek negatif terhadap retensi post pre-pabrikasi yang direkatkan dengan semen resin adhesif (3M Relyx Arc). Post yang direkatkan dengan semen resin kedalam saluran akar  yang diobturasi dengan sealer Endofil (berbasis eugenol) memperlihatkan retensi yang lebih rendah  dibandingkan dengan sealer Tubli-Seal.
Berbeda dengan semen resin adhesif, sealer berbasis eugenol tidak mempengaruhi kekuatan retensi post yang direkatkan dengan zinc phosphate cement.  Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok yang diobturasi dengan sealer berbasis eugenol dan tanpa eugenol. Pada post yang direkatkan dengan semen panavia 21 ke dalam saluran akar yang diobturasi dengan sealer berbasis eugenol, post memiliki retensi yang lebih  tinggi dibandingkan zinc phosphate cement.
Waktu preparasi ruang post juga mempengaruhi kekuatan retensi post yang direkatkan dengan semen resin. Ruang post yang dipreparasi sebelum obturasi Gutta-Percha dan sealer berbasis eugenol memiliki retensi yang lebih rendah dibanding ruang post yang dipreparasi sesudah obturasi. Hal ini terjadi karena dinding tubulus dentin yang terkontaminasi sealer berbasis eugenol terbuang sewaktu preparasi sehingga meminimalisir efek eugenol yang memperpanjang setting luting semen resin.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Al-Ali K. Effect of eugenol-based root canal  sealer on retention of prefabricated metal posts luted with resin cement. The Saudi Dent J 2009; 21: 69-73.
  2. Alfredo E, Souza ES, Marchesan MA, et al. Effect of eugenol-based endodontic cement on the adhesion of intraradicular posts. Braz Dent J 2006; 17(2): 130-3.  
  3. Qualtrough AJE, Satterthwaite JD, Morrow LA, Brunton PA. Principles of operative dentistry. Blackwell Munksgaard, 2005: 97.
  4. Schmalz G, Arenholt-Bindslev D. Biocompatibility of dental materials. Germany: Springer, 2009: 196.
  5. Soares JA, Brito-Junior M, Fonseca DR, et al. Influence of luting agents on time required for cast post removal by ultrasound: an in vitro study. J of Applied Oral Science 2009;17(3):145-9.
  6. Al-kahtani AM. The effect of root canal sealer and timing of cementation on the microleakage of the parapost luted with resin cement. The Saudi Dent J 2010; 22: 57-62.
  7. Hedlund S-O, Johansson NG, Sjogren G. Retention of prefabricated and individualy cast root canal posts in vitro. British Dent J 2003;195(3):155-8.
  8. Malallah ZA. The role of root canal sealer in successful endodontics. Bahrain Dent Society Newsletter 2006; 1(4): 10-7.
  9. Anonymus. C-ITM Post system. http://www.parkell.com/media/gallery (10 Januari 2011).
  10. Anonymus. Endodontic Sealers- Their Properties and Effects on Fiber Post Retention. www.hi-dentfinishingschool.blogspot.com (10 Januari 2011)